Universitas Esa Unggul Berkontribusi dalam Riset Global Pengurangan Limbah Plastik: Indonesia Siap Bertindak Mandiri


Esaunggul.ac.id, Meskipun perundingan global untuk mencapai Global Plastic Treaty di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan, Indonesia menunjukkan langkah proaktif dengan menyiapkan Rencana Aksi Nasional 26 Poin untuk Pengurangan Limbah Plastik, hasil kolaborasi antara lembaga riset nasional dan perguruan tinggi, termasuk Universitas Esa Unggul (UEU).
Keterlibatan Universitas Esa Unggul dalam riset internasional ini merupakan bagian dari program PISCES (Plastics in Indonesian Societies) yang dipimpin oleh Universitas Brunel London dan melibatkan berbagai mitra akademik di Indonesia seperti BRIN, Universitas Plymouth, dan Universitas Esa Unggul. Program ini didukung oleh Global Challenges Research Fund dari UK Research and Innovation dan telah berlangsung selama empat tahun untuk meneliti tata kelola plastik, perilaku masyarakat, dan solusi berbasis bukti untuk mengatasi pencemaran plastik di Indonesia.
Salah satu fokus utama penelitian ini adalah memahami dampak sosial-ekologis dari pencemaran plastik terhadap komunitas pesisir. Radisti Ayu Praptiwi, peneliti dari Universitas Esa Unggul, bekerja sama dengan peneliti dari University of Plymouth (UK), menemukan bahwa pencemaran plastik tidak hanya mengancam ekosistem laut, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Studi kami mengungkap bahwa begitu plastik masuk ke ekosistem pesisir, dampaknya bersifat kompleks dan sulit dipulihkan. Karena itu, upaya pencegahan harus menjadi prioritas utama dibandingkan penanganan setelah terjadi kerusakan,” ujar Radisti.
Hasil riset tersebut menjadi bagian penting dalam laporan kebijakan “Evidence-Based Strategies for Reducing Plastic Waste in Indonesia”, yang diterbitkan hanya beberapa hari setelah runtuhnya perundingan Jenewa. Laporan ini merekomendasikan strategi konkret seperti penghentian pembakaran terbuka, penguatan sistem daur ulang, serta penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) dengan penegakan hukum yang lebih kuat.

Profesor Muhammad Reza Cordova dari BRIN, salah satu peneliti utama proyek ini, menegaskan pentingnya data berbasis bukti untuk kebijakan pengelolaan plastik nasional. “Kita tidak bisa hanya membangun infrastruktur. Data konsumsi dan produksi harus menjadi jangkar perencanaan. Tanpa baseline realistis, strategi hanya akan reaktif, bukan solutif,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Ir. Arief Kusuma Among Praja, ST, MBA, IPU, ASEAN Eng., Rektor Universitas Esa Unggul, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi riset lintas negara ini yang memperkuat posisi Indonesia dalam sains kebijakan lingkungan global.
“Universitas Esa Unggul berkomitmen mendukung penelitian yang berdampak langsung pada keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Keterlibatan kami dalam riset PISCES menunjukkan bahwa perguruan tinggi Indonesia memiliki kapasitas akademik dan riset yang mampu berkontribusi pada solusi global berbasis bukti, sekaligus memperkuat posisi bangsa dalam transisi menuju ekonomi sirkular yang berkelanjutan,” tutur Rektor UEU.
Rektor juga menambahkan bahwa hasil kolaborasi ini sejalan dengan visi Universitas Esa Unggul Powered by Arizona University dalam mendorong inovasi riset berorientasi global dan kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek Responsible Consumption and Production (SDG 12) serta Life Below Water (SDG 14).
Dengan dukungan akademik dan kebijakan berbasis sains, Indonesia kini berada pada jalur yang kuat untuk melanjutkan aksinya secara mandiri dalam mengatasi polusi plastik, sekaligus menjadi contoh bagi negara berkembang lainnya dalam membangun solusi lokal terhadap tantangan global.
